Seputar Kota dan Desa

Melihat sekitar kita (Kota dan Desa)

Kebiasaan yang buruk di bulan Syawal

Alhamdulillah, kita sudah memasuki bulan Syawal setelah 29 hari berpuasa Ramadhan.

Sekedar catatan ringan aja, kalo ternyata masyarakat kita telah terbiasa dengan hal hal yang tidak baik (yang menurutku itu aneh), yang keburukannya lebih besar. Ini saya dapat dari beberapa tempat di sekitar desaobat.

  1. Pesta pasca lebaran, yaitu dengan konser dangdut (lengkap dengan tarian erotisnya dan juga tidak ketinggalan..tawuran), konser musik musik yang lain. Hal ini akan semakin menjahkan kita dari Sang Maha Kuasa. Seolah-olah Ramadhan itu belenggu bagi kita, dan setelah Ramadhan usai, usai pula ketaatan kita kepada Nya.
  2. Berwisata ke tempat-tempat yang rawan maksiat (bisa saja kafe dan diskotik), ini biasa dilakukan oleh anak-anak muda sekarang. Berdua-duan ditempat yang rawan perzinahan. Kadang saat perjalanan bisa sampai lupa akan shalat karena saking asyiiknya.
  3. Lebaran yang pasti banyak yang beranggapan baju harus baru. Kadang pada acara-acara halal bihalal atau reuni menjadi ajang pamer baju baru. Ini kan riya’, ya seharusnya sewajarnya saja.
  4. Mengumbar bunga api dan petasan (sebenarnya saya juga suka, tetapi karena status ya harus melupakannya), kan sama saja membakar uang dan meledakannya. Mubadzir.
  5. Banyak pejabat atau pemimpin atau orang kaya yang membagi bagikan hartanya pada saat silaturahmi ketempat mereka. Dan ini bisa menimbulkan kericuhan seperti di rumah pak Foke. Seharusnya yang memberi datang ketempat yang akan diberi atau di serahkan saja sama BAZIS.

Itu hanya sebagian kecil, dan tentunya masih banyak hal hal yang madharatnya lebih banyak.

Mudah mudahan Alloh SWT memberikan kesempatan bagi kita untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Sedih rasanya berpisah dengan bulan mulia ini, tetapi waktu terus berjalan.

Selamat Idul Fitri 1430 H. Semoga amal amal kita dibulan Ramadhan, diterima oleh Alloh SWT.

Saudaraku..

Apa sih yang harus kita lakukan setelah habis Ramadhan? Kembali pada semula? Termasuk ibadah kita? Tentu tidak!

Ramadhan bukan merupakan tradisi, yang merupakan ritual rutin yang apabila telah lewat, selesai sudah semuanya. Dan semua itu kembali kepada asal. Sebagai contoh, dari tadinya rajin ke masjid, ee malah sekarang malas dsb. Dan ketika Ramadhan datang lagi, jadi rajin lagi begitu seterusnya. Ada lagi tradisi padusan ketika menyambut awal Ramadhan, yang bukan merupakan identitas Islam. Bukan itu saudaraku.

Alloh mempunyai tujuan, bahwa setelah puasa Ramadhan derajat Takwa kita semakin bertambah.

Demikian pula dengan Syawal yang di Indonesia di identikkan dengan tradisi halal bi halal. Juga bukan itu. Syawal adalah bulan dimana setiap muslim yang menjalankan ibadah puasanya dengan ikhlas, akan seperti bayi yang baru lahir dalam keadaan fitri. Sayang kalo dinodai dengan hal hal yang madharat nya lebih besar, seperti pesta lebaran yang ada hiburan konser dangdut, ada pula tradisi mudik balik yang semakin menambah semrawut jalan raya.

Jadi bulan Syawal merupakan bulan dimana derajat ketakwaan kita bertambah, ibadah kita juga bertambah.

Mari bersama sama kita ubah image, bahwa Ramadhan dan Syawal bukan merupakan tradisi belaka.

23 September 2009 - Posted by | Desa Kota Kebiasaan | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: