Seputar Kota dan Desa

Melihat sekitar kita (Kota dan Desa)

Fakta (Penyimpangan) Seputar Penerimaan CPNS

CPNS adalah impian semua orang, terutama bagi orang golongan ekonomi menegah ke bawah (seperti saya). CPNS masih menjadi primadona sampai saat ini. Banyak orang yang rela mengorbankan segalanya agar menjadi PNS. Ada yang rela datang dari porvinsi atau bahkan pulau lain, untuk mendaftar CPNS ditempat yang jaraknya ratusan KM dari tempat asalnya. Mereka mengorbankan tenaga dan waktu untuk mendapatkan idamannya tersebut. Bahkan ada yang rela merogoh uang puluhan bahkan ratusan juta demi menjadi PNS (bagi yang berduit sich). Padahal gaji PNS itu kecil (kisaran 1,5 sampai 5 juta perbulan), bandingkan dengan TKW/TKI dengan gaji 5-12 juta per bulan (untuk tenaga informal), kalo formal bisa mencapai 25 juta per bulan (apoteker di Malaysia atau Perawat/bidan di Qatar). Jadi PNS hanyalah sebatas status, tetapi banyak orang yang memburunya. Tetapi perlu kita lihat beberapa fakta penyimpangan seputar penerimaan CPNS di sekitar kita.

  1. Sering kali kita membaca file unduhan dari BKN mengenai formasi CPNS disuatu daerah, ternyata berbeda dengan edaran penerimaan CPNS tersebut. Sebagai contoh, Kabupaten A (Prov. B) mengusulkan 15 formasi untuk guru. Dan BKN mengabulkan 15 formasi tersebut. Tetapi ternyata, waktu pengumuman penerimaan CPNS di Kab. A tersebut mengalokasikan 12 formasi. Lantas kemana 3 formasi itu? Anehnya ketika menerbitkan SK, koq ya 15 formasi. Aneh ya. Pernah kejadian, peserta CPNS ini naik haji dan tidak mengikuti ujian seleksi penerimaan CPNS. Waktu pengumuman, nama dia tercantum sebagai orang yang berhak menempati posisi itu. Kontan aja dia langsung sykuran. Nah, ketika syukuran ini, teranyata ada beberapa pejabat yang diundang (kebetulan anak pejabat ini juga ikut ujian), tahu kalau waktu ujian yang bersangkutan naik haji. Kontan aja pak pejabat ini melaporkan ke yang berwenang. Dan selanjutnya..bisa ditebak, semua terkuak.
  2. Sering kali kita membaca edaran penerimaan CPNS ada kata kata “tidak di pungut biaya apapun”. Tetapi ternyata praktiknya tidak demikian. Ada beberapa pemda yang memilih untuk melaksanakan ujian mandiri. Ini yang paling sering terjadi penyimpangan. Setelah tes tertulis lulus, masih ada lagi tes wawancara (dan bisa ditebak, yang dibicarakan adalah uang syukuran). Ada kasus, kebetulan masih famili. Ada 2 formasi yang diperebutkan, dan yang di panggil mengikuti tes wawancara 6 orang. Yang dibicarakan selain “TOEFL” adalah uang syukuran yang nilainya diatas 40 juta. Ya terang saja familiku itu mundur, karena tidak punya uang segitu (maklum, kami  golongan ekonomi lemah). Dan akhirnya yang keterima adalah orang orang yang sudah berduit. Berarti di Kabupaten tersebut, PNS nya kaya-kaya ya, bebas korupsi (mudah mudahan). Padahal yang namanya wawancara itu yang dibicarakan seputar kemampuan individu secara verbal dan wawasan pengetahuannya seberapa luas (seperti waktu saya lolos tes wawancara penerimaan CPNS BPOM), uang mana ada yang disinggung.
  3. Semakin mendekati penerimaan CPNS banyak oknum yang mencari kesempatan. Katanya dengan uang sekian bisa dapat SK. Percayalah, itu hanya bualan belaka. Mereka berspekulasi. Percayalah dengan kemapuan kita dan nasib dari Sang Kuasa. Pernah saya mengalami hal yang serupa. Saya di minta mengeluarkan uang 85 juta rupiah (karena setara S2), tapi kutolak. Alhamdulillah tanpa uang sogokan, saya diterima di 2 tempat (BPOM dan Pemda).
  4. Yang ini sangat fatal bagi stakeholder di pemda. Harusnya mereka melihat fakta kalau kemampuan warga setempat ada yang lulus SMK/SMA atau D3. Lha ini formasi koq minimal S1, yang jelas putra luar daerah leluasa bisa masuk. Saya melihat di beberapa Kabupaten Di Jawa Timur, formasinya sangat sistematis. Mulai dari SMK/SMA, D3, S1, Profesi dan S2. Salut pada Pemda tersebut.
  5. Penataan sebaran formasi yang sangat tidak rasional alias asal. Mungkin sekolah manajemen pemerintahannya di negara antah berantah. Bayangkan ada 2 formasi penyuluh lapangan diperebutkan oleh 5 fakultas sekaligus (ada SE,ST,SKM,SH,S.SOs). Padahal dibeberapa daerah ada yang sudah baik pentaannya. Jadi persaingannya fair. Disamping itu ada formasi yang tidak relevan untuk keadaan terkini. Padahal butuhnya masih 10 tahun lagi, sekarang dah di adakan formasinya.

Demikian dulu fakta fakta yang kami temukan. Insya Alloh bisa ditambahkan lagi. Kami bukan bermaksud menjatuhkan Pemda atau Instansi Pemerintah. Tetapi ini fakta dan menjadi perguncingan di masyarakat.

29 Oktober 2009 - Posted by | Kota Penyimpangan | , , , , , , ,

2 Komentar »

  1. emang banyak yang meragukan hasil tes CPNS,
    mungkin udah mendarah daging kalo semua birokrasi pemerintahan indentik dengan sup menyuap…

    Komentar oleh jasadh | 25 Desember 2009 | Balas

    • Betul mas agus..memang ada beberapa yang shahih dan ada pula yang meragukan. makasih dah berkinjung.

      Komentar oleh desaobat | 8 Januari 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: